World of Magenta

Some Thoughts, Some Experiences, Some Hopes, and Some Stories

Friday, August 04, 2006

Secuil kenangan bersamamu

Aku lewati jalanan itu. Dulu kami sering tertawa-tawa membaca namanya: Jalan Dogol. Letaknya tengah kota Jakarta tapi dengan posisi yang menyempil tak terlihat orang. Waktu itu sedang macet dan kita sering saling mengatai dengan kata-kata: "Dogol lo."

Aku dengar radio di suatu malam. Aku dengar lagunya Bryan Adams: "Here I Am." Lagu soundtrack nya cartoon Spirit: Stallion of Cimarron. Bukan cartoon terlalu populer tapi karena dubbernya adalah Matt Damon, kami jadi suka. Waktu menontonnya saat itu, siang-siang di komputerku dan kamisangat terkesan dengan bagaimana karakter Spirit sesuai banget dengan suara Matt Damon.


Aku pergi ke karaoke bersama teman-temanku. Tapi tetap saja, yang teringat adalah dia. Karena pengalaman pergi ke karaoke yang paling berkesan adalah dengan dia. Suatu hari Selasa jam 4 sore, kami habiskan 2 jam bernyanyi-nyanyi berdua. Kami terpana melihat clipnya F4, karena saat itu kami fans berat mereka. Saking terpananya sampai-sampai kami gak bisa nyanyi.

Tak sengaja aku lihat sebuah buku motif di meja teman kantorku. Banyak corak dan warna. Salah satunya paisley, motif kesukaanmu. Kecintaanmu pada paisley begita mendarah daging dan kamu buat semua nickname, email, dan passwordmu dengan kata itu.

Itu cuma sebagian kecil dari kenangan bersamamu. Ternyata aku begitu merindukanmu. Aku kehilangan tawa candamu, celaan-celaanmu, nyanyi-nyanyimu, semangat petualanganmu, dan masih banyak lagi.

Jangan lupakan aku, walau aku tau kamu berada di tempat lain yang tak mungkin kucapai saat ini.

In memoriam, Andia Linawati

Thursday, May 18, 2006

Balinese Sunset

I've proved it...
that Balinese sunset has driven my heart to care about him more
It's only sunset...just like any other sunset anywhere in the world,
but it's the feelings and ambience that influenced the mood

It was in Kuta beach,
one of the famous beaches in the world.
Holiday paradise, tourist destination, great wave for surfing.
It was not a clean beach ever, got lots of corals, cigarette butts, and other forms of rubbish

I could see people enjoy themselves on the beach
Young boys playing soccer,
Kids building up sand castle
Teenagers swimming
Families spending quality times
Couples walking and holding hands

I was waiting for him taking pictures
It really was not a romantic moment
But the sunset gave a warm feeling in my heart,

as I was there together with him

That Balinese sunset gradually vanished into the horizone line
We were holding hands till the sun finally set,
and watching people still enjoyed themselves

The smells and sound of Balinese sunset will always stay in my heart
It has been captured into my mind,
that in that very moment I have understood him better


Monday, April 10, 2006

I Am So Excited


I am so excited
It pushes up my adrenaline and makes me feel so alive

I am so excited
I feel so powerfull that I want to do thing that bores me

I am so excited
I want to go to the office with fullfilled heart and ready to break a leg

I am so excited
I want to show the world that I am confident and ready to take any challenges


I am so excited
Being so excited will lead me into disappointment


I am so excited
I dont want to expect to much, because it can make me down


I am so excited
I'm afraid I will loose my energy because of my excitement


I am so excited
But I'm also worried


Beside all the statements above, actually I'm ready for losing you

MAMA

Sejak aku kecil aku selalu memanggil ibuku dengan ‘Mama’. Menurutnya, panggilan mama itu adalah sebuah panggilan yang memudahkah bayi, karena kata-kata pertama yang diucapkan oleh bayi biasanya, mama, papa, dada, dan kata-kata lain yang biasanya terdiri dari pengulangan suku kata dengan akhiran vocal. Menurut ibuku juga, panggilan ‘ibu’ agak-agak sulit untuk bayi ucapkan. Butuh waktu lebih lama bagi seorang bayi untuk mengucapkan kata ‘ibu’.

Namun teori ini tidak berlaku bagi ayahku. Dengan latar belakang budaya Jawanya yang kental, aku dan kakakku memanggilnya dengan ‘Bapak’. Kalau dilihat-lihat hal ini pulalah yang menunjukkan pola pikir dan latar belakang mereka. Ibuku juga seorang Jawa yang pernah sekolah di luar negeri, dibesarkan di ibukota, dan lingkungannya sangat mempengaruhi pola berpikirnya yang mengikuti pola pikir barat. Sedangkan ayahku berasal dari Jawa Timur, pola pikirnya masih tradisional dan masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan tradisi Jawa. Hal ini dapat tercermin dari cara aku dan kakakku memanggil mereka: Mama dan Bapak. Cukup tak lazim dibandingkan dengan orang-orang pada umumnya yang memanggil orang tua mereka dengan panggilan yang match: Ibu-Bapak, Mama-Papa, dll.

Panggilan ’Mama’ untuk ibuku sebenarnya mempunyai makna yang cukup besar baginya. Karena panggilan ini menjadi panggilan unuk khusu untuk dirinya. Kakakku adalah cucu pertama di keluarga ibuku. Ibuku adalah anak kedua dari 8 bersaudara. Kehadiran kakakku menjadi pusat perhatian keluarga besar ibuku. Panggilan ’Mama’ yang ditujukan dari kakakku ke ibuku pada akhirnya menjadi panggilan semua orang untuk ibuku. Tante-tante dan oom-oomku memanggilnya dengan Mama-e, plesetan dari Mbak-e. Bahkah akhirnya Eyangku pun juga memanggilnya dengan Mama-e. Mama menjadi panggilan resmi ibuku dan kebetulan juga tante-tante ku yang lain tidak ada yang dipanggil mama oleh anak-anaknya. Sampai-sampai para pembantu di rumah Eyangku tahu siapakah ’Si Mama’ itu.

Yang uniknya, panggilan itu akhirnya merembet ke sepupuku. Karena kami seumur, kami sering main bersama. Dan berhubung sepupuku ini memanggil ibunya dengan panggilan ’Ib’, kependekan dari ibu, dia pun ikut-ikut memanggil ibuku dengan ’Mama’. Ada 2 alasan mengapa dia melakukan hal itu: 1. Dia ikut-ikut aku (maklum dia lebih muda dan selalu imitating yang lebih tua), 2. Dia sebenarnya ingin memanggil ibunya dengan panggilan ’mama’ tapi tak kesampaian. Tanteku, yang adalah ibunya, juga selalu me-refer ibuku sebagai Mama kepada sepupuku itu. Sampai saat ini sepupuku itum selalu memanggil ibuku dengan ”mama”. Tak pernah aku mendengarnya memanggil ’bu dhe’ kepada ibuku.

Sejalan dengan berjalannya waktu, identitas ibuku sebagai Mama menjadi semakin meluas. Setelah menikah, kakak iparku memanggil ibuku dengan ”Mama”, mengikuti kakakku. Secara kebetulan iparku ini memanggil ibunya dengan ”Ibu”. Karena hal ini jugalah, si tante ibunya iparku ini selalu merefer ibuku sebagai ’Mama’ kepada iparku. ”Rum, ini titipan untuk mamamu ya”. ” Bilang terima kasih sama mamamu ya”. Kok aku bisa tau? Yah aku hanya mengutip cerita-cerita iparku. Jadi, panggilan ibu itu adalah untuk ibu kandungnya, panggilan mama adalah untuk ibu mertuanya.

Setelah menjadi nenek, ibuku sudah berniat untuk dipanggil Granny. Unsur pengaruh budaya baratnya terlihat pada kasus ini. Keponakanku sekarang berusia hampir 3 tahun. Dulu pada saat belajar ngomong, keponakanku ini selalu memanggil seseorang dengan suku kata terakhir, seperti memanggil ibunya dengan bu, ayahnya dengan pak, dan neneknya dengan ’ni’ (dari Granny), karena masih susah untuk mengucapkan kata-kata dengan penuh.

Entah kenapa pada saat bicaranya mulai improve, panggilan kepada ibuku menjadi ’Nin’. Mungkin dengan menyebut ’nin’ lebih muda baginya ketimbang ’ni’. Dasar anak kecil, mereka selalu membeo orang-orang disekitarnya. Suatu hari ia memanggil ibuku dengan ”Mama”. Karena statusnya adalah cucu, ibuku keberatan dipanggil mama oleh cucunya. Setelah diajari berkali-kali untuk mengucapkan ’Granny’, sepertinya mengucapkan kata tersebut mungkin cukup repot untuknya. Dia malahan menciptakan panggilan baru: Mama Nin. Mama dari hasil beo nya mendengarkan orangtuanya memanggil ibuku, dan Nin adalah modifikasi kependekan Granny. Jadilah sekarang panggil resmi Granny adalah: Mama Nin. Sampai-sampai guru-guru pre school keponakanku juga ikut-ikut memanggil ibuku dengan Mama Nin.

Ibuku memang menjadi Mama bagi semua orang; anak-anak, suami, adek-adek, keponakan, menantu dan yang paling lucu, juga bagi cucunya. Identitas yang menjadikannya selalu dicintai oleh seluruh keluarganya. Tak cuma sekedar panggilan, tapi juga dari caranya mengayomi orang-orang disekitarnya, ibuku memang Mama sejati.

Sunday, April 02, 2006

Selamat Tinggal Masa Lalu


Masa lalu adalah bagian dari hidup, dimana tanpa adanya masa lalu seseorang tidak bisa menjadi seperti sekarang. Terkadang mengingat masa lalu bisa menjadi suatu refleksi bagi diri sendiri, kalau dimasa lalu kita bisa menjadi lebih kuat dari masa kini atau sebaliknya. Mengingat masa lalu juga bisa membawa seseorang pada suatu kenangan yang membuat dirinya lebih hidup dibandingkan masa tersebut. Tapi dengan sendirinya masa lalu juga bisa membawa seseorang pada suatu penyesalan panjang yang membawa luka.

Ada apa dengan masa lalu sebenarnya???

Pada saat ini, aku selalu membawa diriku flash back ke masa lalu, dan aku dibuatnya terjepit antara mengingat dan melupakan. Flash back ke masa lalu adalah hal yang sangat mudah, apalagi kalau didukung dengan hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu tersebut. Misalnya, saat mendengar sebuah lagu, flash back ke masa lalu akan dengan sangat cepat terjadi, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan rasa dan cinta.

Sabtu kemarin, aku datang ke salah satu kawinan teman baikku. Berhubung dengan status jomblo sedang aku sandang saat ini, jadilah aku melangkah sendiri ke pesta tersebut, tanpa pasangan or pendamping. Semua orang datang dengan pasangan atau keluarga atau teman. Aku sendiri saja. Setelah salaman, mulailah aku mencari-cari tampang-tampang mana yang bisa kusalami. Akhirnya bertemulah dengan beberapa teman. Basa-basi sebentar dan aku pun berniat meninggalkan mereka....pulang maksudnya. Mau makan pun enggan karena antri dimana-mana.

Tiba-tiba sekelebat aku melihat seseorang yang aku sangat familiar dengan wajah dan gaya jalannya. Dia tidak datang sendiri tentunya, tetapi bersama pasangannya. Niat untuk pulang pun kuurungkan karena aku ingin ngobrol-ngobrol sedikit dengannya. At least basa-basi. Aku pun pura-pura ambil makanan untuk mengulur waktu. Ketika akhirnya dia berjalan ke arahku, aku pun memanggilnya. Kami bersalaman, dan tentu saja aku salami juga pasangannya. Harapanku dia akan sedikitnya bertanya kabarku or something....tapi dia beralih ke teman lain. Aku pun berbasa-basi sedikit dengan pasangannya, yang sepertinya juga males aku ajak ngobrol lebih lanjut.Cepat-cepat aku makan makananku, lalu aku cepat-cepat melangkah keluar dari tempat itu.

Diperjalanan pulang aku merasa bodoh sebodoh-bodohnya. Dia adalah salah satu masa laluku. Masa laluku yang meninggalkan banyak jejak dalam hidupku. Dia adalah mantan pacarku yang pertama. Pertama untuk segalanya. Di kawinan itu aku masih berharap dia mau ngobrol atau menyapaku. Apalagi istrinya sempat begitu ramah padaku di kesempatan lain. Jelas terbaca dia tak mau lagi berurusan dengan aku. Beberapa kali kami sempat chat di internet. Dia duluan yang menyapa. Oleh karenanya aku menganggap dia baik-baik saja denganku, dalam arti kami tetap teman baik. Apakah aku adalah ancaman untuk perkawinannya?? Apakah aku salah bila ingin tetap berteman dengannya? Apakah karena ada istrinya disitu sehingga dia bertingkah sangat menyebalkan?

Diperjalanan pulang itu pula aku berpikir untuk meninggalkan masa laluku dengannya, yang mungkin seharusnya sudah aku lakukan sejak dia menikah. Perlu kuakui kalau adalah susah untukku untuk melupakan dia sepenuhnya. It takes times, but I can do it. Memang kami sudah jarang keep in touch, dan rasa dekat yang sempat ada setelah putus pun sudah tak terlalu terasa lagi. Tapi momen tersebut meyakinkan aku untuk melepaskan semua kenangan dengannya. Sudah terlalu lama berlalu dan untuk saat ini tak perlu lagi untuk diingat lagi. Maka dari itu, untuk hal ini masa lalu akan menjadi duri dalam daging untuk hidupku. Orang yang aku ingat-ingat dalam masa laluku pun tak akan ingat aku lagi. It's gonna be useless. So, selamat tinggal masa laluku dengan kamu. Walaupun sudah menjadi cerita panjang dalam hidupku, tapi itu hanyalah cerita yang tak perlu diingat-ingat lagi.


Sunday, March 05, 2006

A Poem

Please go away
You've been haunting me all this time
It sounds like a cliche song lyrics, but I can't get rid of you from my mind
I wanna see you
I wanna meet you
But I realize, it'll turn out into a disappointment

Very hard thing to face when you're expecting someone who doesn't expect you
Very hurt to feel the wasted love
Very tired to try to forget someone but he keeps on coming to your mind
Very sad to know we no longer have those beautiful moments like we used to have
Very confusing to hear that in some ways you still want me like I do

What should I do?
I only need to clear things up

Dearest Best Friends

Is it a wrong thing if one looses her feelings to her friends? Some can say, friends will be friends. Whatever will happen, the friendship will never fall apart, because it's not romance. Some also can say, time changes everything. As time goes by, the feelings toward something can be changed too. Not only between lovers, but friends too.

At this moment, I feel like loosing my friends. To be exact, my best friends. We used to hang out together, keeping in touch to each other between our busy days. When I was overseas, I could feel very close bond we had while we were apart. Saturday afternoon used to be our meeting day. Leaving all the business on the weekdays and sharing all the experiences and hopes.

I am sorry to say, best friends. But I dont feel that way anymore. I don't even feel to tell you what I'm going through in my life right now. Is it because of being busy??? Is it so hard to arrange time to meet?? One thing that made me sad was, when we met I didn't feel that bond anymore. I am so sad, really sad.

Are we those people who are drawn in the harsh and fully pressured metropolitan kind of life that it's hard for me to spend more time? Do we really loose it or it's just me? I'm wondering myself looking for the answer. I haven't found it yet

Tuesday, January 10, 2006

She Was A Great Friend



I lost a friend. She passed away at 3.45 pm, on Monday 9 January 2006, after long suffering illness.

I went to her house to give condolences to her family. I saw her there, lying on mattress, covered with batik. Her face was covered by a sheer white piece of fabric. Her face was so thin and I could see that she was in deep pain before she’s gone. I couldn’t help myself from crying. I sat there, praying. I talked to her, telling her how sorry I was that I couldn’t be a good friend for her on her last days. My dearest best friend has gone forever.

Later on that nite back to my home, I looked at our pictures. We always had great moments. We always shared our stories. We encouraged to each other. We did crazy things together. We taught each other about life. We had learnt from the past that our friendship had been through several tests that made us to be more appreciative to each other. She was always there for me in happy or sad times. She was a great listener.

She always told me to think positive, because if we think negative about something; we would see the thing as something bad. It would psychologically affect our lives. For how bad situation she’s ever experienced, she always saw it as a way to find something else. Even when she got the illness, she thought it was a big challenge from God that she had to face. She was the most optimist person I’ve ever met.

I remember something she’d ever told me when I was feeling down.
We were in a restaurant. We just finished eating. There was a glass of water with ¾ full and she asked me,
“Look at this glass. What do you think?”
I said, “It’s almost full.”
She was smiling and said, “You should not see it as an almost-full glass of water. Instead you should think that the glass has been filled with ¾ of water. You should fill the ¼ part to make it full.”
“You shouldn’t think how much left you have to do with your life, but you have to think that you have done something with your life that now you should continue fulfilling it.”

On the last days of her life, she was still trying to recover. She still thought of getting better that she would be able to go to the beach, to wear jeans, to eat ice cream and cheese, to drive, to create paisley design, and to do her other favourite activities. She was really a fighter.

One thing that was a very typical of her was, she always willing to spend her time just to help her friends. Even though sometimes it would put her into troubles, but as long as she could help her friends she didn’t mind. So many times I asked her why she liked to be busy with those unimportant things; she just said that it was her characteristic of being busy. She could be stressed if she just couldn’t do anything. And indeed she got them in return after what she’s done to other people. She was never being alone because her all friends were always around her, and helped her whenever she needed. She was a kind person.

Writing this article, I’ve got mixed up feelings that are not easy to describe. I am sad, that I know she has gone forever, but I am also happy that now she has rested in peace, freed from her pain and found her happiness in heaven. Now, I just want to remember good memories of her life. I want to remember her with smiles in my heart.

Good bye Andia.

It’s been my treasure to ever know such a good friend and person like you.
I will be missing you always.












One of greatest moments with Andia

Sunday, January 08, 2006

He's Finally Got A Wife


I went to a friend’s wedding yesterday. He is one of good friends of mine back in Brisbane, Australia. The moment I greeted him, I was so touched knowing that now he has a wife…not only a girlfriend. Why did I think that way?

When in Ausie, I knew exactly how desperate he was to look for a girlfriend. For several times, he tried to approach some girls, who happened to be my close friends. That’s where my role to him: giving information about the girl he was approaching. The most important thing: giving clues and hints of how those girls thought about him. Unfortunately all the efforts he made were totally failures. Those girls only considered him a friend.

Then one day he told me that he had a girl friend. She is his mate in Indonesia and they’ve decided to go long distance. According to his story, their relationship was pretty intense and they seemed to go to next step: marriage. Finally he returned home to Indonesia last year and the plan was called off. He lost his interest in her. He came back to Brisbane empty handed. No partner, no wife.

I could see his desperation in seeking a partner through our chat on messenger. He told me that he made another effort to approach this particular girl. She is cute and kind. She only treated him like a brother. But it made him confused. Why? Because he had big feeling on her, while sometime she treated him more than friends. On the other hand she also closed to other guy…..He was totally upset. Again, another failure.

One day he told me this news. He would go back to Indonesia and get married!!!! WOW. He would marry another old friend of his. He hadn’t met this girl again before they decided to get married. What courage!!! Anyway, they really made it. In Sundanese white wedding dress, with his bride standing beside him, he looked so bright and charming. I could see the happiness on his eyes. The look of hope and satisfaction that he finally has someone in his life. I’ve never seen that look before after knowing him for 2 years. I am so happy for him. Next week he will go back to Brisbane….with a wife.

Learning from his story I realise, we never know how our match will come to us. It’s always a mystery that we have to wait until the time comes.


For my friend “The Storm”, congratulation and wish you a happily marriage.
I know you will not spend your time wondering alone in the city anymore.